DENPASAR – Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah wilayah Bali memicu antrean panjang kendaraan di berbagai Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Kondisi yang terjadi sejak awal Oktober 2026 ini mengganggu aktivitas masyarakat, terutama pengendara yang membutuhkan bahan bakar untuk bekerja dan menjalankan kegiatan sehari-hari.

Sejumlah wilayah, termasuk Denpasar, Badung, Tabanan, dan Klungkung, dilaporkan mengalami kendala ketersediaan BBM. Beberapa SPBU bahkan kehabisan stok Pertalite maupun Pertamax sehingga pengendara harus mencari SPBU lain atau mengantre lebih lama.

Keterlambatan Distribusi Jadi Salah Satu Penyebab

Kelangkaan BBM di Bali tidak terlepas dari kendala distribusi. Pertamina sebelumnya menjelaskan bahwa terjadi keterlambatan pasokan Pertalite. Pada 8 Oktober 2026, perusahaan menyatakan pasokan telah tiba pada 7 Oktober dan upaya pemulihan distribusi terus dilakukan.

Selain itu, keterlambatan kapal pengangkut BBM dan hambatan perjalanan mobil tangki akibat kepadatan lalu lintas turut memengaruhi penyaluran bahan bakar ke sejumlah SPBU.

Gubernur Bali Wayan Koster juga menyebut kekhawatiran masyarakat terhadap kemungkinan kehabisan BBM membuat banyak pengendara mengisi bahan bakar secara bersamaan. Situasi tersebut menyebabkan stok di sejumlah SPBU lebih cepat habis dan antrean semakin panjang.

Pertamina Tambah Pasokan untuk Memulihkan Kondisi

Untuk menangani situasi tersebut, Pertamina melakukan penambahan pasokan dan mempercepat distribusi BBM ke berbagai wilayah Bali. Laporan Tirto pada 13 Oktober 2026 menyebut penambahan pasokan mencapai 26.200 kiloliter untuk membantu mempercepat pemulihan layanan.

Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri, juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Bali atas antrean panjang dan kendala pelayanan BBM. Pernyataan tersebut disampaikan setelah pertemuan dengan Gubernur Bali pada 13 Oktober 2026

Pemerintah daerah dan Pertamina berupaya mempercepat penyaluran dari depo menuju SPBU agar kebutuhan bahan bakar masyarakat dapat kembali terpenuhi.

Sebanyak 92 SPBU di Denpasar dan Badung Disiapkan Beroperasi 24 Jam

Sebagai langkah penanganan, sebanyak 92 SPBU di Denpasar dan Badung disiapkan beroperasi selama 24 jam mulai malam 13 Oktober 2026. Kebijakan tersebut dibahas dalam pertemuan Gubernur Bali dengan Direktur Utama Pertamina di Depo Pertamina Sanggaran.

Selain memperpanjang jam pelayanan SPBU, Pertamina juga menyiapkan operasional depo selama 24 jam dan menambah armada distribusi mobil tangki dari 90 menjadi 105 unit. SPBU di Gianyar dan Tabanan turut disiapkan untuk menerapkan operasional 24 jam dalam tahap berikutnya

Langkah ini diharapkan membantu mengurai antrean kendaraan sekaligus mempercepat pelayanan kepada masyarakat. Pelaksanaannya tetap membutuhkan kesiapan petugas, fasilitas, dan pengaturan distribusi di lapangan.

Masyarakat Diimbau Tidak Panik

Di tengah kelangkaan yang terjadi, masyarakat diimbau tetap tenang dan membeli BBM sesuai kebutuhan. Gubernur Bali menyatakan bahwa pasokan di depo utama, yakni Sanggaran dan Manggis, tersedia, tetapi penyalurannya menuju SPBU menghadapi hambatan operasional.

Masyarakat juga disarankan memeriksa informasi terbaru mengenai ketersediaan BBM sebelum melakukan perjalanan, menghindari antrean yang berpotensi mengganggu lalu lintas, serta tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.

Pemulihan pasokan dan distribusi menjadi faktor penting untuk mengembalikan pelayanan SPBU ke kondisi normal. Masyarakat diharapkan terus memperoleh informasi resmi dari Pertamina dan pemerintah daerah selama penanganan berlangsung.

Situasi ini sekaligus menjadi pengingat pentingnya koordinasi distribusi energi, kesiapan sarana pengangkutan, dan komunikasi yang jelas kepada masyarakat agar gangguan pasokan tidak berkembang menjadi kepanikan yang lebih luas.