Denpasar, Bali — Monumen Perjuangan Puputan Badung yang berdiri di jantung Kota Denpasar kini tampil dengan wajah baru setelah menyelesaikan proses revitalisasi. Monumen yang berada di Lapangan I Gusti Ngurah Made Agung, atau yang lebih dikenal sebagai Lapangan Puputan Badung, tersebut diresmikan pada Jumat, 14 November 2025, bertepatan dengan Hari Suci Sugihan Bali.
Revitalisasi ini tidak hanya bertujuan memperbarui tampilan monumen, tetapi juga memperkuat fungsinya sebagai ruang publik, tempat refleksi sejarah, serta sarana edukasi bagi masyarakat. Kehadiran monumen tersebut menjadi pengingat terhadap perjuangan rakyat Badung dalam peristiwa Puputan Badung pada 1906.
Simbol Penghormatan terhadap Puputan Badung
Puputan Badung merupakan salah satu peristiwa penting dalam sejarah Bali. Peristiwa tersebut terjadi pada 20 September 1906, ketika Raja Badung, I Gusti Ngurah Made Agung, bersama kerabat, pengikut, dan rakyat Badung melakukan perlawanan terhadap pasukan kolonial Belanda.
Istilah “puputan” merujuk pada sikap berjuang hingga akhir. Peristiwa tersebut dikenang sebagai bentuk keberanian dan pengorbanan dalam mempertahankan kehormatan, wilayah, serta martabat Kerajaan Badung. I Gusti Ngurah Made Agung kemudian dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah perjuangan masyarakat Bali.
Monumen yang berada di tengah kota itu dibangun untuk mengenang jasa dan perjuangan para pahlawan yang gugur dalam peristiwa tersebut. Karena itu, keberadaannya tidak dapat dipandang hanya sebagai elemen penghias kota. Monumen ini menjadi penanda sejarah yang menghubungkan masyarakat masa kini dengan perjuangan leluhur pada masa lalu.
Revitalisasi Memadukan Unsur Sejarah dan Budaya
Setelah direvitalisasi, kawasan Monumen Perjuangan Puputan Badung ditata dengan memadukan unsur sejarah, budaya, dan nilai-nilai heroisme. Sejumlah bagian yang diperbarui meliputi pemugaran patung, pembaruan pedestal, penataan kolam, serta penghijauan di sekitar area monumen.
Pada bagian pedestal, monumen juga dilengkapi relief berbahan kuningan yang menggambarkan kisah perjuangan rakyat Badung. Relief tersebut memberikan tambahan konteks visual bagi pengunjung sehingga sejarah Puputan Badung tidak hanya disampaikan melalui tulisan, tetapi juga melalui karya seni yang dapat diamati secara langsung.
Penataan baru ini membuat kawasan monumen memiliki fungsi yang lebih luas. Selain menjadi tempat penghormatan, area tersebut dapat dimanfaatkan sebagai ruang untuk mengenalkan sejarah lokal kepada anak-anak, pelajar, wisatawan, dan masyarakat umum.
Lebih Ramah bagi Pengunjung
Salah satu bagian penting dalam revitalisasi adalah upaya menjadikan kawasan monumen lebih mudah diakses oleh berbagai kalangan. Area tersebut dilengkapi ram yang dapat digunakan oleh penyandang disabilitas pengguna kursi roda. Guiding block bagi penyandang tunanetra juga diperbaiki untuk membantu memberikan petunjuk arah dan menandai adanya hambatan di sekitar jalur.
Fasilitas tersebut menunjukkan bahwa pengembangan ruang publik tidak hanya berfokus pada tampilan, tetapi juga pada kenyamanan dan aksesibilitas. Dengan jalur yang lebih ramah, kawasan monumen diharapkan dapat dikunjungi oleh lebih banyak orang, termasuk kelompok masyarakat yang sebelumnya mungkin mengalami kesulitan ketika mengakses area tersebut.
Peningkatan aksesibilitas juga memperkuat fungsi monumen sebagai ruang publik yang terbuka. Masyarakat dapat datang untuk belajar sejarah, menikmati suasana lapangan, atau mengikuti kegiatan budaya yang berlangsung di sekitar kawasan.
Berada di Kawasan Strategis Kota Denpasar
Monumen Perjuangan Puputan Badung berada di Lapangan I Gusti Ngurah Made Agung, salah satu ruang terbuka yang penting bagi masyarakat Denpasar. Lokasinya berada di kawasan pusat kota dan berdekatan dengan sejumlah tempat penting, termasuk Museum Bali, Pura Agung Jagatnatha, serta kawasan Catur Muka.
Lapangan tersebut tidak hanya digunakan sebagai ruang terbuka hijau, tetapi juga memiliki hubungan erat dengan sejarah perkembangan Kota Denpasar. Kawasan ini menjadi tempat masyarakat beraktivitas, berolahraga, bersantai, serta mengikuti berbagai kegiatan kebudayaan dan pemerintahan.
Keberadaan monumen di kawasan tersebut membuat pengunjung dapat menikmati wisata sejarah dalam satu kawasan dengan ruang publik dan destinasi budaya lainnya. Pengunjung bisa mempelajari sejarah Puputan Badung sekaligus mengenal lingkungan bersejarah di pusat Kota Denpasar.
Ruang Belajar bagi Generasi Mendatang
Salah satu tujuan utama revitalisasi Monumen Perjuangan Puputan Badung adalah menjadikannya sebagai pusat pembelajaran sejarah dan kebudayaan. Dengan tampilan yang lebih tertata dan fasilitas yang lebih baik, monumen ini diharapkan dapat menjadi tempat belajar di luar ruang kelas.
Pelajar dapat mengenal lebih dekat tokoh-tokoh perjuangan Badung, memahami latar belakang Puputan Badung, serta melihat bagaimana sejarah tersebut terus dirawat melalui monumen dan ruang publik.
Bagi wisatawan, monumen ini juga dapat menjadi pilihan wisata sejarah ketika berkunjung ke Denpasar. Di tengah popularitas Bali sebagai destinasi pantai dan alam, keberadaan Monumen Perjuangan Puputan Badung menawarkan pengalaman wisata yang berbeda, yaitu memahami perjalanan sejarah dan budaya masyarakat Bali.
Menjaga Ingatan, Merawat Identitas
Revitalisasi Monumen Perjuangan Puputan Badung menunjukkan bahwa pembangunan kota tidak hanya berkaitan dengan infrastruktur modern. Perawatan situs sejarah juga penting agar identitas dan ingatan kolektif masyarakat tetap terjaga.
Monumen tersebut mengingatkan bahwa Denpasar memiliki sejarah panjang yang tidak dapat dipisahkan dari perjuangan rakyat Badung. Melalui penataan kawasan, relief, ruang publik, dan fasilitas yang lebih inklusif, sejarah itu diharapkan tetap hidup dan dapat dipahami oleh generasi yang akan datang.
Dengan selesainya revitalisasi, Monumen Perjuangan Puputan Badung kini tidak hanya berdiri sebagai simbol penghormatan terhadap peristiwa 1906. Monumen ini juga diharapkan menjadi ruang edukasi, tempat refleksi, serta bagian penting dari wajah budaya Kota Denpasar.